IMG_0332

drg. Farida Istiarini., Sp. Ort

Jangan Takut Meraih Kesempatan

Dokter Gigi seringkali disebut sebagai “an architect of the smile.” Tidak terbatas pada pengobatan penyakit gigi dan mulut, dokter gigi juga memiliki peran pada pengobatan lain, seperti kanker mulut, merawat dan mempromosikan kesehatan mulut, kerja gigi dan lidah, ludah, serta kesadaran untuk menjaga kesehatan mulut.

Dulu, masyarakat berkunjung ke dokter gigi, karena mengalami rasa sakit di gigi. Namun, kedokteran gigi modern di bidang estetik mengubah perspektif masyarakat terhadap dunia kedokteran gigi. Kedokteran gigi kini menerapkan dan memiliki seni dan estetika dalam memperbaiki penampilan, sekaligus meningkatkan fungsi gigi dan mulut.

Seni dan estetika inilah yang kemudian membuat drg. Farida Istiarini., Sp. Ort memilihi kedokteran gigi. “Dari kecil saya sangat mencintai dunia seni. Makanya saya memilih kedokteran gigi. Tidak hanya dituntut memiliki science yang tinggi, dokter gigi juga harus memiliki seni atau art. Keseimbangan antara science and art itulah yang modal untuk menggeluti dunia kedokteran gigi,” ungkap drg alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti.

drg. Farida melanjutkan studi sebagai Spesialis Ortodonsia di FKG-UGM. Ia mengaku mendapat kepuasan dan kebahagiaan ketika berhasil merawat pasien menjadi lebih cantik dan tersenyum dengan percaya diri. Ia pun menjelaskan bahwa seorang Dokter Gigi Spesialis Ortodonti dalam praktiknya menangani kasus seperti gigi berjejal, gigi dengan spacing (berjarak-jarak), kelainan hubungan rahang atas dan bawah dimana jarak gigi depan atas terletak jauh di depan gigi depan bawah (overjet besar). “Adapula kasus gigi depan bawah terletak di depan gigi depan atas atau biasa disebut cameh/ overjet negative, gigitan depan terbuka(open bite), gigitan dalam (deep overbite), interdigitasi yg kurang baik sehingga menyebabkan kelainan sendi temporomandibular, kelainan susunan gigi dan rahang berkaitan kebiasaan buruk serta kasus-kasus lainnya,” jelasnya.

Selain kebahagiaan karena berhasil merawat pasien, dokter gigi cantik kelahiran Mataram, 8 Maret ini, pun merasa bahwa dunia kedokteran gigi sangatlah istimewa. “Setiap hari bertemu dengan berbagai karakter pasien dan kasus, mulai dari usia pasien anak-anak sampai dewasa. Bahkan ada yang sudah berusia di atas 60 tahun tetap ingin memperbaiki susunan giginya menjadi lebih rapi dan senyumnya lebih cantik,” tutur owner Joli Sourire Dental Care.

 

Bakti Sosial Penderita Bibir Sumbing       

Kedisiplinan, dedikasi tinggi serta komitmen, dipelajari drg. Farida dari almarhum sang suami, drg. Samdharu Pramono., M.Phil., Sp. Pros., PhD. “Beliau seorang pendidik yang mengajarkan dan memberikan contoh banyak hal dalam karier saya. Beliau termasuk guru bagi saya. Beliau selalu mengatakan selama masih hidup, kita harus terus belajar serta menyenangi pekerjaan seperti layaknya hobi. Jangan lupa berbagi dengan sesama serta selalu bersyukur kepada Allah SWT,” ujarnya.

Selain almarhum suami, drg. Farida terinspirasi dari Prof Anne Marrie Kujpers-Jagtman. Seorang ortodontis yang tapi memperhatikan dan merawat gigi anak yang menderita celah bibir dan langit-langit (sumbing). “Beliau sangat konsen dan komit dalam menangani penderita sumbing, dari terlibat dalam yayasan sosial untuk penderita sumbing hingga turun langsung di setiap ada bakti sosial untuk penderita sumbing, khususnya di Indonesia. Saya pun mengikuti jejak beliau sejak tahun 2008 hingga saat ini  bersama tim dokter relawan lainnya dengan ikut bakti social operasi bibir sumbing gratis di Lombok. Kami berharap dapat memiliki cleft center untuk merawat penderita celah bibir dan langit-langit secara komprehensif di Lombok,” ungkapnya.

Pelajaran hidup juga didapat drg. Farida dari kedua orang tuanya. Sang Ayah merupakan seorang pendidik atau guru, sedangkan sang ibu merupakan sosok ibu rumah tangga yang sangat mengabdikan hidup untuk keluarga. “Keduanya menginspirasi saya dalam bersikap dan menghadapi hidup dengan kejujuran, kerja keras, positive thinking, dan selalu optimis atas karunia yang Allah SWT berikan. Insya Allah selalu diberikan yang terbaik. Saya diajarkan untuk belajar dari setiap kesalahan dan kekurangan sehingga potensi diri kita semakin berkembang,” imbuhnya.

Peran keluarga juga diakui drg. Farida sangat besar dalam mendukung karir. “Mereka selalu mendoakan dan mendukung hingga sekarang. Saya mencoba melakukannya secara seimbang. Tanpa adanya keseimbangan, seorang istri mungkin tidak akan mampu menjadi seorang ibu yang baik bagi anak-anaknya. Tanpa keseimbangan pula, seorang ibu rumah tangga yang merangkap sebagai wanita karier, belum tentu mampu menjadi professional yang baik di kantornya,” terangnya.

Dalam sebuah rumah tangga, ibu mempunyai peran sebagai seorang istri bagi suami, ibu bagi anak-anaknya dan sebagai ibu rumah tangga. “Kita harus memposisikan diri sebagai istri sekaligus ibu, teman dan kekasih bagi suami. Suami adalah manusia biasa yang sekali waktu perlu dimanja, butuh perhatian dan juga kasih sayang. Butuh tempat berlindung dan mengadukan atas kesulitan yang dialaminya. Menjadi teman diskusi seraya memberikan dukungan motivasi, semangat dan doa bagi suami. Peran saya sebagai  seorang ibu yang terpenting adalah untuk mendidik, mengasuh dan membimbing. Sesungguhnya watak, kepribadian anak-anak terletak sebagian besar dari pola didikan kedua orang tuanya di rumah. Dalam menentukan pembentukan anak-anak adalah yang terbaik dalam keluarga,” jelas ibu dari Keysha Nasheeta dan Arvyn Ramadhany.

 

Ortodontis Pertama di Nusa Tenggara Barat

drg. Farida merupakan putri asli yang lahir dan sekolah hingga jenjang SMA di Lombok. Ia pun melanjutkan kuliah di Kedokteran Gigi Trisakti dan mengabdikan ilmu selama kurang lebih tiga tahun saya bertugas di Puskesmas di Lombok. “Saya memutuskan untuk belajar dan menjadi spesialis, karena di dokter gigi di daerah saya ternyata masih kurang. Alhamdulillah saya pun menjadi ortodontis pertama, khususnya di Lombok dan di Nusa Tenggara Barat. Sampai saat ini pun saya selalu mengupdate ilmu saya, baik di dalam maupun luar negeri. Jadi, wanita Indonesia jangan takut meraih kesempatan. Kita memiliki kesempatan yang sama bila ingin maju dan berkembang. Hidup di daerah bukan hambatan untuk kita maju, berkembang dan berkarya,” tegasnya.                       

Memperingati Hari Dokter Nasional, drg. Farida memiliki harapan untuk dunia kesehatan di Indonesia, yaitu kesehatan paripurna bagi masyarakat Indonesia. “Saya berharap semua orang memiliki niat untuk mengubah perilaku. Faktor risiko yang paling mungkin diubah untuk bisa menjaga kesehatan adalah gaya hidup. Edukasi dan pengetahuan menjadi hal yang penting untuk melakukan tindakan pencegahan terhadap suatu penyakit. Edukasi tentang kesehatan kepada masyarakat merupakan hal yang penting karena ada  sebagian masyarakat yang masih percaya mitos,” ingat drg. Farida yang juga berharap agar pasien yang kurang mampu dapat lebih diperhatikan untuk mendapatkan pelayanan dan penanganan yang tepat.

Tidak dapat dipungkiri jika dunia kesehatan mengalami perubahan atau disrupsi. Perkembangan teknologi di bidang kesehatan semakin mempermudah pasien dalam mendapatkan layanan kesehatan. “Dulu, pasien yang harus mendekatkan diri dengan penyedia layanan kesehatan. Sekarang, penyedia layanan kesehatanlah yang mendekatkan diri ke pasien,” tegas Owner Joli Sourire Dental Care, President Rotary Club Mataram Lombok (2021-2022), dan Ketua Penyelenggara Puteri Indonesia Provinsi NTB (2020, 2021)

 

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *